“ Ayo rek, ndang syuting mumpung free. Cepet ganti seragam.”
“
Syuting? Saiki? Ganti seragam ta? ”
Okay,
itu adalah tiga pertanyaan bodohku yang jawabannya sudah ada di pernyataan
sebelumnya, namun tetap mengharuskan temanku menjawab dengan satu kata
penegasan demi meyakinkanku, yaitu ...
“Iyo, Dis.”
Jadi,
beberapa minggu yang lalu, kami mendapatkan project dari sekolah untuk membuat
video. Video dibuat oleh masing-masing kelas dengan masing-masing tema yang
berbeda (koyok e). Dan kebetulan sekali, kelasku mendapatkan tema ‘Cinta
Sesama’. Pertanyaan bodohku muncul karena sebenarnya aku nggak terlalu paham tentang
bagaimana project tersebut dan bagaimana video yang akan kami buat, mengingat
saat pemberian tugas dan proses berdiskusi bersama teman-teman, aku nggak bisa
hadir, sebab anak taat dan berbakti kepada orang tua, serta sangat ‘rajin’ ini
harus menemani mama di rumah. Iyo, aku mbolos izin.
Video
yang akan kami buat adalah tentang ‘Catatan Akhir Sekolah’, maksudku video
akhir sekolah, yak, seperti itulah intinya. Scene pertama yang kami ambil
menampilkan kesan dan pesan teman-teman selama di SMA. Kirana, selaku camera-woman
dan editor dalam video ini, memulai dengan pertanyaan,
“
Masa SMA itu..?”
Ketika Mya bilang,
“Masa SMA itu adalah masa yang paling indah, dimana kita
bisa membedakan mana teman yang
beneran sama ‘teman-temanan’ bla bla..”
atau katanya Alen dan Juwita,
“Masa SMA itu.. waktunya main-main!”
ada lagi yang bilang,
“Masa SMA itu adalah masa yang kekinian (sambil jari-jarinya
bentuk lambang hati, terus digerakkan ke depan belakang)”
yang di atas itu aku nggak
ngerti maksutnya apa, yang penting Desty happy. Bebas. Maklum, anak SMA.
Tapi aku dengan santainya
bilang,
“ Masa SMA itu katanya paling indah, nyatanya biasa
aja.”
Yang sontak diikuti dengan
kehebohan teman-temanku. Bahkan katanya Mutia,
“ Mari gak mlebu dua hari, kok mlebu tambah metesek.”
Mungkin nggak seperti itu
kata-katanya, tapi kurang lebih seperti itu. Dan detik itu juga, aku sadar
bahwa pendapatku tentang masa SMA berpotensi menimbulkan kesalahpahaman (ini
lebay).
Nah! Itulah kenapa aku menulis
post ini.
Menurutku,
perkataan yang sudah kita ucapkan itu nggak bisa atau mungkin sangat susah
untuk ditarik kembali. Di sini, aku tidak menarik kembali perkataanku. Toh juga
akan ada di video, nantinya :p . Tapi, aku hanya menambahkan tafsiran dari apa
yang kuucapkan sajaaahahahaha.
Sebenarnya,
masa SMA ku bukan masa yang ‘biasa aja’ dan aku yakin setiap orang, pun
masing-masing temanku juga punya kisah menariknya saat di SMA. Memang nggak
bisa dipungkiri, bahwa selama kita mengusahakan terbaik yang kita bisa, akan
banyak orang-orang terbaik yang ditempatkan di sekitar kita. Kalau katanya
Prof. Yohanes Surya, ‘MESTAKUNG’ semesta mendukung. Iya, kita nggak sendiri.
Nggak akan pernah sendiri. Meskipun nggak kelihatan, yakinlah bahwa setiap
langkah kita diikuti doa dari orang-orang yang sayang sama kita, dan yang kita
sayangi pastinya. Kadang-kadang kita lupa, kalau ada orang yang di setiap
sujudnya terbisik namamu, dia cerminan sisi terbaikmu, lindungi hatinya,
sekalipun di dalam amarah. /Yah, jadi nyanyi/ mereka manusia-manusia
luar biasa, orang tua kita. Itu bukti kecil kalau kita nggak pernah sendiri.
Saat aku bilang kalau masa SMA ku biasa aja, mungkin aku sedang lupa.
Dan lagi, sepertinya aku sedang lupa. Lupa bahwa masa SMA ku
nggak akan selamanya, setelah ini juga selesai. Seperti yang kita tahu (bukan
tempe), kita akan sangat merasa kehilangan sesuatu saat sesuatu itu telah
benar-benar pergi. Mungkin karena sekarang aku masih SMA, jadi belum merasa
kalau masa SMA atau masa sekolah itu paling indah. Bukannya nggak percaya sama
orang-orang yang sudah lebih dulu melewati fase ini. Aku hanya yakin, that
my future is brighter than oppa’s smile, it means that it will be more
beautiful! Iya, oppa-oppa korea. Nggak kebayang kan, secerah dan seindah apa?! (fangirl detected)
Tapi tetap saja, kita nggak akan tau endingnya, nggak akan
tau kedepannya seperti apa, bahkan untuk satu menit kedepan akan bagaimana
saja, kita juga nggak tau. Yang bisa aku lakukan ya hanya menikmati apa yang
terjadi saat ini. Nikmati prosesnya. Nikmati apa yang pasti akan kurindukan.
Sistem sekolah yang subhanallah, guru-guru yang sabar dengan perilaku kami dan
bersedia memberikan sebagian besar waktunya untuk kami, dan teman-teman yang
sabar akan kerecehanku dan keanehanku serta betapa menyebalkannya aku (karena
sebenernya kita sama-sama menyebalkan). Apapun dan siapapun, Terima kasih!!
Untuk siapapun yang sedang membaca ini, ingatkan aku kalau
aku sudah mulai mengeluh dan lupa menikmati proses. Ingatkan aku kalau aku
kurang bersyukur. Ingatkan aku kalau aku tak sendiri dan semuanya akan
baik-baik saja. Dan yang terpenting, ingatkan aku agar selalu berusaha tetap di
jalan-Nya. Karena satu-satunya ending yang kita tau itu, yaa pada akhirnya,
kita hanya akan kembali pada-Nya.
Sekian