Selasa, 30 Agustus 2022

Hari ini, Satu Tahun yang Lalu


Sampai tulisan ini dibuat, sebenarnya aku belum benar-benar tau apa yang mau kutulis. Mungkin kepalaku terlalu penuh? setidaknya itu yang kurasakan-- atau mungkin hanya alasanku saja? entahlah, aku juga tidak benar-benar tau apa yang kurasakan ini sebenarnya 'penuh' atau malah 'kosong'.

Hari ini, satu tahun yang lalu. Apa maksudnya Hari Selasa satu tahun yang lalu? Bukan bukan, terlalu banyak Hari Selasa di tahun 2021

Atau mungkin maksudnya 30 Agustus di tahun 2021? Kurasa itu yang ingin kuceritakan. Apa sebaiknya ganti judul aja ya? Hmm

Sungguh ambigu.

Memang seperti itu, akan selalu banyak pertanyaan dan pilihan yang muncul, artinya banyak juga skenario yang kita buat di kepala kita sendiri. Sering kali skenarionya berjalan semakin liar-bebas, sampai kadang-kadang kita sendiri kesulitan menghentikan. Kalau dipikir-pikir gila juga ya.. dengan volume otak yang terbatas, bisa tercipta ruang yang kita tidak tau batasnya. Ruang yang dipenuhi pertanyaan, pilihan, dan skenario yang kita bikin sendiri. Yang jelas, ruang itu tetap terbatas. Hanya saja ketidak-tahuan kita membuat kita bingung, ini sebenarnya penuh atau kosong ya?


30 Agustus 2021Jika dilihat dari angka-angka yang tersusun, 30082021, tidak ada yang spesial. Hanya angka biasa saja yang kebetulan juga jadi hari ulang tahunku yang ke-22. Sudah menginjak kepala dua sejak dua tahun yang lalu, jika dihitung dari tahun 2021. Aku bukan tipe orang yang selalu merayakan ulang tahunku. Aku menganggapnya seperti yaa hari-hari biasa saja, mungkin dengan sedikit lebih banyak orang yang mendoakan untuk kebaikanku, aku selalu bersyukur untuk itu.

Hari ini, 30 Agustus 2022. Masih tetap, tidak ada yang spesial dari angka-angka yang tersusun, 30082022. See?

Sudah setahun berlalu sejak ultahku yang ke-22, tapi ingatanku di hari itu, masih jelas. (Btw, naauurrr aku 23 thn hari ini 😱)

Aneh, biasanya aku cenderung pelupa, bahkan drakor yang baru saja tamat kutonton selama belasan jam itu-- aku bisa saja sudah lupa alurnya hanya dalam selang beberapa minggu.

Tapi hari ini, satu tahun yang lalu. Aku masih ingat.


Kalau sedang nggak ke sekolah/kampus, hari-hariku ya biasanya di rumah aja, jarang banget pergi-pergi kalo gak diajak (dipaksa sih lebih tepatnya HAHA). I think I'm forever a homebody🤘🤘🤘

Tidak terkecuali hari itu, aku juga di rumah. Tapi bukan rumahku sendiri, aku di rumah sakit. Bukan aku yang dirawat, aku cuma nemenin mama yang sedang dirawat. Sebenarnya sudah beberapa kali sejak awal agustus '21 mama harus keluar-masuk rumah sakit, dan saat itu mungkin sudah kali ke-3 mama harus ke UGD dan kali pertama mama kembali ke RS pasca-operasi pengangkatan rahim dan ternyata harus dirawat lagi. 

Selama mama dirawat memang aku yang selalu nemenin dan tidur di RS karena selama pandemi penunggu pasien harus satu orang (tidak boleh gantian), keluarga dan saudara biasanya ke RS nganter makan, kasih doa dan semangat, dll. tanpa bisa ketemu mama. Papa mungkin beberapa kali curi waktu masuk ruangan karena aku kadang-kadang gak kuat kalo harus bantu mama pindah posisi dll. (lemah bgt emang). Selebihnya, aku yang sementara jadi wali pasien termasuk tanda tangan surat-surat persetujuan sebelum operasi dll. Benar-benar pengalaman pertama kali seumur hidup dan jujur agak takut saat itu, tapi yaudah alhamdulillah dikasih kesempatan nemenin mama jadi dijalani aja. 

Waktu itu, setelah selesai operasi saat visite dokter, mama juga sempat nanya sendiri ke dokter bagaimana operasinya dst. Kata dokter, jika dilihat dari bentuk miom yang diangkat kemungkinan tumor/kanker tapi masih harus dilihat lagi dari hasil lab PA, karena belum pasti. Aku khawatir jelas, tapi coba positive thinking karena hasil lab belum keluar. Aku juga sempat lega, karena setelah operasi mama pulih relatif cepat, sudah bisa duduk dan jalan dan sudah boleh pulang setelah dua hari saja. 

Namun setelah mama pulang pasca-operasi, keadaannya tidak membaik secara signifikan sampai akhirnya, malam hari sebelum kembali ke UGD untuk ke-3 kalinya itu, salah satu tanteku minta tolong aku fotoin resume medis mama dari RS saat pulang pasca-operasi. Setelah itu, tante bilang kalau di diagnosis dokter tertulis "Ca ovari" berarti dokter sudah diagnosis kalau mama kanker ovarium, dan aku baru ngeuh malam itu. Aku cuma bisa nangis, merasa jadi orang paling bodoh sedunia, karena bisa-bisa nya aku nggak ngerti? Aku yang selama ini selalu di RS sama mama, tapi aku nggak ngerti? Waktu tante nanya kenapa aku gak cerita, aku cuma bisa diem, aku nggak ngerti.. aku bingung.. waktu pulang dari RS pasca-operasi pun dokter dan perawatnya cuma kasih obat dan menjelaskan ini obat apa diminum kapan aja, nggak ada menjelaskan apapun selain itu. Saat itu, nggak ada yang jelasin dan kasih tau aku tentang diagnosis dokternya, mungkin mereka kira aku masih anak kecil, anak SMP atau apa?? Aku nggak tau juga. Dan bodohnya aku, kenapa aku nggak nanya?? Malam itu aku cuma bisa nangis doang dan marah sama diri sendiri kenapa aku bodoh bangett?? 

Menjelang dini hari, akhirnya mama mau untuk berangkat ke UGD lagi (untuk yang ketiga kalinya). Observasi dan visite dokter juga dilakukan di hari yang sama, nunggu sampai dokter satu lagi visit (karena dokter yang menangani mama ada dua--dokter kandungan dan dokter bedah), akhirnya ada keputusan bahwa mama harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar, ke RSSA, karena diperlukan tindakan lain dan mungkin butuh operasi lagi. 

Aku langsung berkabar ke keluarga di rumah sambil berkemas buat siap-siap pindah RS. Papa langsung nyamperin ke RS dan nyuruh aku ke bawah bawa beberapa barang dan sudah ada Mas Dicky di mobil, katanya. Aku bilang gausah, nanti aja sekalian. Tapi papa kekeuh pokoknya aku turun dulu. Yaudah, aku turun ke mobil. Eh ternyata gak cuma Mas Dicky, ada Mbak Kiki, Rafka, Fifi, dan Sasha-- sambil happy birthday-an. Terus aku kayak.. oh iya bener juga aku ultah hari ini hehe. Tapi waktu itu aku cuma bisa nangis karena udah gak tahan lagi seharian nahan nangis di ruangan karena udah diwanti-wanti kalo bisa jangan sampai nangis di depan mama, harus kuat. Untungnya aku sebentar aja sih waktu itu nangisnya soalnya lihat wow ada ayam crispy kfc jadi aku berhenti menangis dan mulai makan (hmm enak jadi pengin wkwk). Setelah kenyang, aku naik lagi ke ruangan dan papa cuma senyam-senyum aja (Ealah wes janjian tibak e haha). 

Kembali lagi, proses administrasi buat rujuk pindah RS ternyata agak lama, jadi Mas Dicky dkk. pulang dulu, papa masih di RS sambil bantu siap-siap juga. Saat itu aku juga lagi chatting-an sama Mutia, dia bilang mau nyamperin aku karena dia mau ke rumah temannya jadi sekalian, katanya. Nggak lama, Mutia ngabarin kalau dia sudah di bawah, akhirnya papa nemenin mama dulu di ruangan dan aku turun. Ternyataaa Mutia bawa baegopa (aakkkk makanan kesukaan kita semua hihihi 😁) sedikit cerita ini-itu sama Mutia, terus Mutia pulang. Ternyata dia juga sisipkan surat di tas kreseknya. Ada dua surat, salah satu surat sudah ada tulisan 'warning' kalau sebaiknya surat itu dibaca saat kamu siap aja, katanya. Akhirnya aku memutuskan untuk baca satu surat aja dulu, tidak perlu dipertanyakan surat mana yang kubaca, jelas surat tanpa 'warning' karena maaf anaknya memang suka lebay dan agak dramatis jadi merasa belum siap aja untuk baca surat satunya meskipun belum tau apa isi surat itu. Ketika aku baca, ternyata bingkisan dan pesannya nggak cuma dari Mutia aja tapi juga dari Bila. Bersyukur banget saat itu karena dikelilingi orang-orang super baik dan supportif, tidak hanya makanannya, suratnya juga berhasil bikin aku sedikit tenang di hari yang super hectic. Terimakasih banyak! 🥺

Kemudian aku naik lagi, mama minta diseka wajahnya pakai handuk basah, biar seger katanya. Waktu aku seka wajahnya mama, mama bilang, 

"Awakmu saiki ulang tahun yo, mama gak iso ngekei opo-opo, mek pintu surga."

(Kamu hari ini ulang tahun ya? Mama gak bisa kasih apa-apa, hanya pintu surga)

YaAllah, aku mbrebes mili. Udah diwanti-wanti gak boleh nangis di depan mama, tapi ya gimana..... Aku cuma bisa diem aja sambil 'hehe', bahkan mau bilang 'aamiin' aja waktu itu aku gak sanggup. Cuma bisa mengaminkan dalam hati. Sungguh respon yang sangat tidak memuaskan, maaf ya ma hehe (tuh kan hehe lagi hzzz)

Setelah itu, ke-hectic-an berlanjut, sekitar pukul delapan malam, kami sudah ada di IGD RSSA, papa mengurus berkas ini-itu, aku nemenin mama sambil ceritain keluhan dan riwayat keluar-masuk rumah sakit sebulan terakhir ke dokter jaga IGD. Benar saja, ternyata mama harus segera dioperasi lagi untuk kedua kali. Operasi yang kedua ini sepertinya operasi yang besar, mama juga harus bius total-- waktu persiapan operasinya pun juga panjang. Malam itu, akhirnya aku pulang, papa yang nemenin mama di IGD RSSA. 

Mama baru dioperasi besok harinya sekitar pukul satu siang, operasi berlangsung cukup lama- selama ±6 jam. Aku tidak sempat ketemu mama sebelum masuk ruang operasi, baru ketemu mama lagi setelah mama keluar ruang operasi dengan belum sepenuhnya sadar mama cuma bilang,

"Dunga'no aku." (Do'akan aku)

Setelah itu, kami (aku, papa, mas dicky) nganterin mama masuk ke ruang HCU, jadi kami hanya bisa nunggu di luar kecuali perawat atau dokternya minta salah satu keluarga untuk masuk. Sementara di parkiran rumah sakit, saudara dan kerabat (ada Pakde, Mbah Nono, Mas Bili, Mbak Tanti, dkk.) nyamperin semua karena kebetulan juga baru saja ada acara 40 harian Bude (kakak ipar mama) tapi sayang tidak bisa masuk menemui mama, yang penting kami saling kasih support dan doa. 

Waktu di RSSA, papa yang lebih sering nemenin mama. Setiap aku, Mas Dicky, Diva, atau Tante Yuni yang jaga, kami nggak sempat ketemu mama karena ya nggak bisa sembarangan masuk. Jadi cuma papa yang sempat ketemu lagi selama beberapa hari mama di ruang HCU. Keadaannya pun sempat membaik, papa bahkan minta tolong aku bawain baju ganti mama (karena bisa jadi mama sudah bisa pindah ke ruang rawat inap biasa) tapi di hari yang sama Allah berkehendak lain, menjelang maghrib mama mulai drop dan beberapa jam kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.


Hari ini, setahun yang lalu. Rasanya nano-nano. Ada sedih dan khawatir sekaligus bersyukur di waktu yang sama. Beberapa hari setelahnya-- Such a rollercoaster ride.

Selama setahun ini, aku masih bertanya-tanya. Ini sepanjang apa sih rel rollercoaster-nya? Kok sepertinya nggak selesai-selesai.

Rasanya semangat dan motivasiku naik-turun, bahkan semakin bingung dan sedih ketika aku juga merasa imanku naik-turun. Aku sebenarnya maunya apa, aku juga masih nggak ngerti? Aku bingung apa lagi yang mau dikejar, apa lagi yang mau dicari? Ada tempat kosong dan nggak mungkin bisa diisi lagi.

Tapi alhamdulillah masih selalu diingatkan kalau aku tidak sendiri, masih banyak orang-orang di sekitarku yang bikin aku selalu bersyukur. Masih banyak hal yang harus diperbaiki dan dipelajari. Bagaimanapun ya harus tetap melanjutkan perjalanan.

Nggak ada gunanya juga kalau ketemu pintu di tempat tujuan, tapi gak punya kunci buat buka gemboknya kan? (Ya mungkin bisa sih kalo mau didobrak, tapi sepertinya aku gak punya energi untuk itu, belum lagi kalau pintunya dibuat dari material terbaik dan terkuat di seluruh bumi dan alam semesta, bukan lagi kuasa manusia sudah HAHA)

Semoga kita semua selalu dilapangkan hatinya, diberi kekuatan dan kesabaran dengan skenario terbaik-Nya baik yang sudah dan akan datang. Selalu ada dalam lindungan-Nya dan ditetapkan di jalan-Nya. Aamiin

Thank you for all the warm and sweetest wishes. Hoping you a bunch of love and all the happiness in this world, too. <3

Sekian. (Dari Disty yang baru saja 23 tahun xixixi)


Nb: makasih udah mau baca sampai akhir tulisanku yang berantakan ini, semoga kamu gak menyesal haha 🤪