Kamis, 28 Desember 2017

Katanya dan Nyatanya

“ Ayo rek, ndang syuting  mumpung free. Cepet ganti seragam.”
“ Syuting? Saiki? Ganti seragam ta? ”
Okay, itu adalah tiga pertanyaan bodohku yang jawabannya sudah ada di pernyataan sebelumnya, namun tetap mengharuskan temanku menjawab dengan satu kata penegasan demi meyakinkanku, yaitu ...
                “Iyo, Dis.”

Jadi, beberapa minggu yang lalu, kami mendapatkan project dari sekolah untuk membuat video. Video dibuat oleh masing-masing kelas dengan masing-masing tema yang berbeda (koyok e). Dan kebetulan sekali, kelasku mendapatkan tema ‘Cinta Sesama’. Pertanyaan bodohku muncul karena sebenarnya aku nggak terlalu paham tentang bagaimana project tersebut dan bagaimana video yang akan kami buat, mengingat saat pemberian tugas dan proses berdiskusi bersama teman-teman, aku nggak bisa hadir, sebab anak taat dan berbakti kepada orang tua, serta sangat ‘rajin’ ini harus menemani mama di rumah. Iyo, aku mbolos izin.
Video yang akan kami buat adalah tentang ‘Catatan Akhir Sekolah’, maksudku video akhir sekolah, yak, seperti itulah intinya. Scene pertama yang kami ambil menampilkan kesan dan pesan teman-teman selama di SMA. Kirana, selaku camera-woman dan editor dalam video ini, memulai dengan pertanyaan,
“ Masa SMA itu..?”
Ketika  Mya bilang,
“Masa SMA itu adalah masa yang paling indah, dimana kita bisa membedakan mana teman     yang beneran sama ‘teman-temanan’ bla bla..”
atau katanya Alen dan Juwita,
“Masa SMA itu.. waktunya main-main!”
ada lagi yang bilang,
“Masa SMA itu adalah masa yang kekinian (sambil jari-jarinya bentuk lambang hati, terus digerakkan ke depan belakang)”
yang di atas itu aku nggak ngerti maksutnya apa, yang penting Desty happy. Bebas. Maklum, anak SMA.
Tapi aku dengan santainya bilang,
                “ Masa SMA itu katanya paling indah, nyatanya biasa aja.”
Yang sontak diikuti dengan kehebohan teman-temanku. Bahkan katanya Mutia,
                “ Mari gak mlebu dua hari, kok mlebu tambah metesek.”
Mungkin nggak seperti itu kata-katanya, tapi kurang lebih seperti itu. Dan detik itu juga, aku sadar bahwa pendapatku tentang masa SMA berpotensi menimbulkan kesalahpahaman (ini lebay).
Nah! Itulah kenapa aku menulis post ini.
Menurutku, perkataan yang sudah kita ucapkan itu nggak bisa atau mungkin sangat susah untuk ditarik kembali. Di sini, aku tidak menarik kembali perkataanku. Toh juga akan ada di video, nantinya :p . Tapi, aku hanya menambahkan tafsiran dari apa yang kuucapkan sajaaahahahaha.
Sebenarnya, masa SMA ku bukan masa yang ‘biasa aja’ dan aku yakin setiap orang, pun masing-masing temanku juga punya kisah menariknya saat di SMA. Memang nggak bisa dipungkiri, bahwa selama kita mengusahakan terbaik yang kita bisa, akan banyak orang-orang terbaik yang ditempatkan di sekitar kita. Kalau katanya Prof. Yohanes Surya, ‘MESTAKUNG’ semesta mendukung. Iya, kita nggak sendiri. Nggak akan pernah sendiri. Meskipun nggak kelihatan, yakinlah bahwa setiap langkah kita diikuti doa dari orang-orang yang sayang sama kita, dan yang kita sayangi pastinya. Kadang-kadang kita lupa, kalau ada orang yang di setiap sujudnya terbisik namamu, dia cerminan sisi terbaikmu, lindungi hatinya, sekalipun di dalam amarah. /Yah, jadi nyanyi/ mereka manusia-manusia luar biasa, orang tua kita. Itu bukti kecil kalau kita nggak pernah sendiri. Saat aku bilang kalau masa SMA ku biasa aja, mungkin aku sedang lupa.
Dan lagi, sepertinya aku sedang lupa. Lupa bahwa masa SMA ku nggak akan selamanya, setelah ini juga selesai. Seperti yang kita tahu (bukan tempe), kita akan sangat merasa kehilangan sesuatu saat sesuatu itu telah benar-benar pergi. Mungkin karena sekarang aku masih SMA, jadi belum merasa kalau masa SMA atau masa sekolah itu paling indah. Bukannya nggak percaya sama orang-orang yang sudah lebih dulu melewati fase ini. Aku hanya yakin, that my future is brighter than oppa’s smile, it means that it will be more beautiful! Iya, oppa-oppa korea. Nggak kebayang kan, secerah dan seindah apa?! (fangirl detected)
Tapi tetap saja, kita nggak akan tau endingnya, nggak akan tau kedepannya seperti apa, bahkan untuk satu menit kedepan akan bagaimana saja, kita juga nggak tau. Yang bisa aku lakukan ya hanya menikmati apa yang terjadi saat ini. Nikmati prosesnya. Nikmati apa yang pasti akan kurindukan. Sistem sekolah yang subhanallah, guru-guru yang sabar dengan perilaku kami dan bersedia memberikan sebagian besar waktunya untuk kami, dan teman-teman yang sabar akan kerecehanku dan keanehanku serta betapa menyebalkannya aku (karena sebenernya kita sama-sama menyebalkan). Apapun dan siapapun, Terima kasih!!
Untuk siapapun yang sedang membaca ini, ingatkan aku kalau aku sudah mulai mengeluh dan lupa menikmati proses. Ingatkan aku kalau aku kurang bersyukur. Ingatkan aku kalau aku tak sendiri dan semuanya akan baik-baik saja. Dan yang terpenting, ingatkan aku agar selalu berusaha tetap di jalan-Nya. Karena satu-satunya ending yang kita tau itu, yaa pada akhirnya, kita hanya akan kembali pada-Nya.

Sekian 

7 komentar:

  1. Wah ada namaku disebut , kayaknya ku jadi pemeran antagonis disini . Gapapa , emang bener koq . Tulis terus yhea . Tak ingetin sekarang , keburu masa SMA nya abis .

    BalasHapus
  2. Aisyah octaviani putri29 Desember 2017 pukul 02.37

    Tenang dis,tak ingetin pagi siang sore malam,si ikan juga ngingetin nanti��

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasi roomate ♥♥ mimot juga, jgn lupa :p

      Hapus
    2. yah, m nya kurang satu. ralat
      roommate aku ♥♥

      Hapus